Erma Darmayanti, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Sang Bintang

SANG BINTANG

“ Yah, ayo yah cepat! Sekarang sudah jam 07.00. Nanti aku terlambat sampai ke tempat seminar.” Begitu teriakku kepada suamiku yang pagi ini sudah asyik dengan burung-burung peliharaannya. Semetara kedua anakku masih asyik diperaduannya, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Meskipun libur, kami selaku guru TK Melati ditugaskan untuk mengikuti seminar bagi guru-guru se kota yogyakarta. Seminar itu di adakan di salah satu hotel yang terkenal di yogyakarta, dalam rangka peningkatan kapasitas guru TK yang hendak naik pangkat.

Segera setelah mendengar teriakanku. Suamiku bersiap-siap untuk mengantar ke tempat seminar, meskipun dengan wajah yang bersungut-sungut. Perjalanan pagi itu sangat lancar. Dalam perjalanan aku melihat banyak kegiatan yang dilakukan orang- orang untuk mengisi waktu mereka pada ahad pagi yang jarang dilakukan mereka pada hari biasanya. Aku melihat beberapa orang sedang berolahraga, berjalan-jalan maupun bersepeda. Di salah satu ujung kampung juga terlihat beberapa warga yang sedang melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan. Ah, tampaknya mereka begitu asyik menikmati hari liburnya. Berbeda dengan aku yang harus ikut seminar selama sehari penuh, sehingga tidak dapat melewati hari libur ini bersama keluarga tercinta.

***

Sekitar 45 menit perjalanan sampailah aku ke tempat tujuan. Disana sudah banyak teman-teman yang telah berkumpul di lobi hotel untuk menunggu ruangan seminar di buka. Kulihat banyak sekali peserta yang berasal dari luar daerah. “Yah nanti jemput aku jam 06.00 sore”. Begitu ucapku pada suami yang hendak pulang ke rumah. Iya ....jawab suamiku.Segera aku bergabung dengan teman-teman yang ada di lobi hotel tersebut. Tak lama kemudian ruangan yang digunakan untuk kegiatan seminar dibuka dan kamipun diminta mengisi daftar hadir dan segera masuk ruangan. Aku bersama temanku memilih deretan kursi baris ketiga dari depan samping tembok dan segera setelah itu acarapun dimulai.

Acara dimulai tepat jam 08.30. pemateri yang pertama adalah dari dinas pendidikan provinsi DIY yang berakhir sekitar pukul 12.00. Beliau menyampaikan banyak sekali info-info terkini seputar pendidikan sehingga menambah ilmu pengetahuan baru dan semoga bermanfaat bagiku. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan istirahat sejenak. Waktu istirahat kami gunakan untuk makan siang sekaligus beribadah sholat Dhuhur bagi yang beragama islam. Rasa lelah dan penat serta kantukpun hilang. Sisa waktu istirahat kami gunakan untuk bercakap –cakap dan berkenalan dengan peserta lain. Sungguh meriah sekali, apalagi makan siang yang disiapkan panitia sangatlah istimewa. Makanan-makanan tradisional tersaji dengan rapi di meja. Peserta tinggal memilih dan mengambil mana yang dikehendaki. Terdengar suara panggilan untuk berkumpul. Pertanda waktu istirahat telah berakhir. Setelah istirahat siang pemateri kedua adalah motivator muda yang sekarang sedang sukses dari ibukota. Kabarnya pemateri ini mampu mencairkan suasana dan tengah di minati perihal cara penyampaiannya yang menarik. Seminarpun dilanjutkan kembali. Pemateri kedua mengawali dengan perkenalan dan dilanjutkan dengan penyampaian materi. Akupun sangat menikmati paparan dari pemateri tersebut dan tampaknya teman-temanpun juga tetap bersemangat untuk terus mengikuti seminar, padahal hari telah semakin sore. Materi disampaikan dengan sangat apik dan menarik. Keahlian pemateri dalam mencairkan suasana sungguh terlihat. Waktu-waktu berjalan tak terasa. Sungguh, tak sedikitpun tampak wajah-wajah jenuh para peserta. Semua dengan antusias menyimak materi yang disampaikan saking menariknya. Wah, tak salahlah jika banyak orang yang terpuaskan dengannya.

***

“Ibu-ibu dan bapak- bapak demikian materi yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya saya mohon maaf. Namun sebelum saya kembalikan kepada panitia. Apabila dari bapak dan ibu ada yang menghendaki softcopy dari materi saya ini bisa langsung menghubungi panitia”, demikian yang disampaikan pemateri dalam mengakhiri penyampaiannya. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. materi kedua telah selesai. Selanjutnya panitia menyampaikan beberapa informasi berkenaan dengan seminar yang kami lalui hari ini sekaligus mengenai sertifikat yang nantinya di dapat peserta.

Tidak hanya dengan cara penyampaiannya, akupun tertarik dengan materi yang disampaikan pada hari ini. Sehingga aku mengikuti peserta lain untuk ikut antri dalam pemesanan copy-an materi. Antrian begitu panjang. Aku menunggu sambil duduk di samping meja panitia. Tiba-tiba ada yang menyapaku. Setelah ku tengok ternyata Pak Heru, pemateri kedua hari ini. Kaget, ya bu? iya pak,jawabku pelan.Beliau kemudian melanjutkan pertanyaanya.Ibu...,masih ingatkah ibu dengan saya?. Saya Herunardin bu yang dulu biasa di panggil Ardin.” Demikian pak Heru memberi penjelasannya. “Ardin, wah maaf pak. Ardin yang mana ya? Kok saya lupa” jawabku. “Maaf ibu, kalau ndak salah ibu adalah bu Farikhah kan? Guru dari TK Melati. Bu..., saya Ardin murid ibu angkatan tahun 1984. Itu lho bu yang nakalnya minta ampun, yang sering membuat ibu pusing dengan ulahnya. Ya ini orangnya”, jawab Pak Heru. “Subhanalloh........, Maaf pak,soalnya anak ibu banyak sekali jadi agak lama mengenalinya. Wah sekarang sudah sukses ya? Selamat ya pak,saya ikut senang”,Kataku. “Ah ibu jangan panggil saya dengan sebutan bapak panggillah dengan nak biar kita lebih akrab ,saya kan putra ibu”.Tapi sekarang kan saya sedang jadi murid bapak,jadi nggak salah kan jika saya panggil pak,gurauku.Tanpa mendengarkan gurauanku kemudian pak Heru melanjutkan percakapannya “Alhamdulillah bu, berkat bu Ika yang selalu membimbing kami dengan ketulusan hati sehingga saya bisa jadi seperti sekarang ini. Ibu masih mengajar di TK Melati kan? “Iya nak”,jawabku kemudian. Mudah-mudahan TK melati semakin maju ya bu ya. Saya lihat banyak sekali kemajuan dan prestasi yang diraih. Wah, pasti berkat bimbingan Bu Ika.” Ucapnya. “Ya itu semua berkat kerjasama banyak pihak. Mudah-mudahan Pak, semua lebih maju dan baik dari yang sekarang.” Percakapan kamipun berlanjut hingga aku dapat copyan materi langsung dari narasumbernya.

***

“Bu, saya perhatikan kelihatannya ibu sudah akrab sekali dengan pak Heru”, tanya bu Susi. “Iya bu Kebetulan Pak Heru itu dulu adalah murid saya,jawabku datar. Saya juga baru tahu tadi setelah beliau sendiri yang menjelaskannya. Kalau nggak, saya juga sudah lupa”, aku melanjutkan jawabanku tadi. “Subhanalloh bu,murid ibu banyak yang sukses ya ? trus angkatan tahun berapa beliau? “Angkatan tahun 1984, dulu panggilannya Ardin”, Jelasku. Kami terus bercakap-cakap sambil menunggu dijemput. Karena kebetulan Bu Susi juga tidak bersepeda motor sendiri. Tak lama kemudian suamikupun datang menjemput.

Sesampainya aku dirumah, anak-anakku telah menyambutku. Pekerjaan rumah telah menungguku. Aku disibukkan dengan pekerjaan rumah yang sudah menjadi rutinitas dikerjakan seorang ibu. Dirumah aku adalah ibu rumah tangga, sama seperti ibu-ibu yang lain.

***

Malam ketika semua pekerjaan rumah telah selesai. Aku teringat kembali percakapanku dengan Pak Heru tadi sore. Percakapan sederhana yang ternyata menggugah semangatku sebagai seorang pendidik. Hal itu membuatku menjadi terkenang kejadian 27 tahun yang lalu. Terbayang dibenakku seorang Ardin yang begitu aktifnya sekaligus banyak sekali akalnya hingga membuat gurunya gemas. Ardin yang gemuk namun aktif dan senyum khas yang senantiasa tersungging dibibirnya. Ardin adalah jagoan dikelasnya. Orang-orang menyebutnya anak nakal. Banyak orang bahkan gurupun dibuat pusing akan tingkahnya. Pernah beberapa orang tua wali melapor kepada kami bahwa anaknya dijaili (dicubiti) oleh Ardin tersebut. Waktu itu saya memanggil mereka berdua untuk mengkonfirmasikan kejadian itu kepada mereka secara langsung agar jelas seperti apa kejadiannya karena kebetulan waktu itu aku sebagai wali kelasnya. Ternyata Ardin melakukan kejailan tanpa alasan. Setelah diselidiki, Ardin pernah dicubiti anak lain kemudian orang tuanya memberikan pemahaman bahwa dicubit itu tidak apa-apa,sehingga tertanam dalam pikiran Ardin bahwa mencubit tidak salah. Setelah tahu permasalahannya perlahan Ardin dapat diberi pemahaman tentang pergaulan dan kasih sayang terhadap sesama. Ternyata Ardin yang dulu beda jauh dengan Ardin yang sekarang. Wah, tak seorangpun menyangka bahwa dia bakal bisa seperti ini.Akupun sebagai gurunya tak mengira bahwa dia akan jadi bintang narasumber dikalangan pendidik yang selalu dinanti kehadirannya karena keistimewaan beliau dalam menyuguhkan materinya. Itulah keistimewaannya. Yang membuat aku terkesan adalah perkataannya bahwa dia bisa menjadi seperti sekarang ini dan memilih menekuni bidang tersebut dikarenakan salah satunya adalah kenangan masa kecilnya. Masa TKnya yang membekas dihatinya sekaligus ucapanku bahwa orang lain bisa maka aku pasti bisa juga, selalu diingat dan dijadikan sebagai penyemangatnya. Beliau berkata bahwa orang yang diidolakannya adalah aku. Sungguh bak disiram oleh air kesejukan saat itu. Ada guratan kebanggaan sekaligus semangat baru disana. Padahal dengan mengingat aku sebagai guru Tknya saja itu sudah menjadi penghargaan murid terhadap diriku sebagai guru. Ternyata kenangan masa kecilnya memberikan ruang tersendiri dalam dirinya untuk selalu dikenang. Menekuni di dunia pendidikan apalagi di TK tak sedikit orang memandang dengan sebelah mata. Tak jarang lontaran kata-kata merendahkan dan menyepelekanpun terucap sampai ketelinga. Kadang ketika kita mendengar ucapan dari sebagian mereka, agak surut semangat ini. Namun ketika kita melihat bahwa permata-permata yang dititipkan kepada kita suatu waktu telah menjadi mutiara yang indah bahkan disegani banyak orang, sungguh menjadi suatu kebanggaan tersediri. Selain itu, ternyata kenakalan yang dikatakan banyak orang itu sebetulnya bukanlah nakal. Karena tidak ada anak yang nakal tapi yang ada adalah anak yang berakal. Terjadinya suatu kenakalan pada anak pastilah ada alasannya. Selain itu, setiap hal yang dikerjakan dan dilakukan anak, ketika kita bertanya mengapa demikian, pasti selalu ada jawaban atau alasan dari mereka. Mereka belajar hal-hal baru yang mungkin belum pernah mereka ketahui. Maka dari itu, masih butuh sekali arahan dan bimbingan yang benar. Karena pada dasarnya anak usia dini itu di ibaratkan suatu kertas, masih putih belum terdapat noda. Tinggal bagaimana orang tua dan kita sebagai Guru atau orang tua disekolahlah yang pandai-pandai mengukir dan mengisi kertas itu. Jika diisi dengan hal yang baik, pembiasaan dan akhlaq yang baik. Maka akan jadi baiklah anak itu. Maka tak salahlah ketika ada sebutan permata. Karena permata itu adalah perhiasan yang selalu di jaga, dirawat dengan hati-hati serta sepenuh hati dan selalu di simpan di tempat yang istimewa. Begitu juga dengan anak, entah itu anak kandung kita sendiri ataukah anak didik kita. Mereka adalah permata-permata kecil yang butuh untuk di jaga, diarahkan, dirawat, dan diberikan ruang yang istimewa dalam hati kita. Meski terkadang agak sedikit menguji kesabaran kita.

***

“Bu,aku berangkat dulu ya”.Perkataan suamiku membuat aku tersadar dari lamunan.”Lho sekarang sudah jam berapa to yah?, Kok ayah sudah akan berangkat”.Setelah kutengok jam dinding ternyata jam sudah menunjukkan jam 21.00.Bergegas aku mengantarkan kepergian suamiku untuk dinas malam. Setelah mengantar kemudian kupersiapkan dan kutata semua yang kubutuhkan untuk tugasku yang telah menanti esok hari. Dalam hatiku tak kusesali waktu liburku yang telah hilang karena telah terganti dengan ilmu yang baru dan bermanfaat untukku nantinya. Ilmu yang kuperoleh dari sang bintang narasumber yang ternyata adalah muridku sendiri.Rasa kantukpun mulai menghampiriku, aku segera bersiap untuk beristirahat malam. Aku bergegas untuk beristirahat dengan harapan pasti bahwa aku akan mendampingi permata-permata kecilku esok hari dengan lebih baik lagi dan semangat baru. Harapanku semoga mereka dapat menjadi manusia yang bermanfaat.Amin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali